Secara umum seorang anak (kecuali bayi di bawah usia 2 bulan) dikatakan menderita diare bila frekuensi BAB bertambah dari biasanya (>3 kali/hari) dengan konsistensi tinja cair.

Data epidemiologi memperlihatkan bahwa rotavirus (60%) merupakan penyebab tersering diare akut pada anak usia di bawah 3 tahun. sisanya baru disebabkan oleh berbagai bakteri maupun parasit. Selain faktor tersebut diare juga dapat muncul ketika seorang anak memiliki alergi atau intoleransi terhadap makanan.

Pada diare akan terjadi kehilangan cairan dan elektrolit, oleh karena itu, tata laksana utama diare adalah mengganti kehilangan cairan dan elektrolit selama diare agar anak tidak dehidrasi. Anak dapat mengalami dehidrasi ringan sampai dengan dehidrasi berat.Tanda anak yang mengalami dhidrasi ringan-sedang adalah jika anak terlihat haus dan buang air kecil mulai berkurang. Mata terlihat agak cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering. Pada keadaan ini, anak harus diberikan cairan rehidrasi dibawah pengawasan tenaga medis, sehingga anak perlu dibawah ke rumah sakit. Tanda anak dehidrasi berat adalah terlihatnya napas yang cepat dan dalam, sangat lemas, keasadaran menurun, denyut nadi cepat, dan kekenayalan kulit sangat menurun. Segera bawa anak ke Rumah Sakit untuk mendapat cairan rehidrasi melalui infuse.

Saat ini telah ada oralit hipoosmolar (kadar Na 75 meq/L) yang dianjurkan diberikan kepada anak yang mengalami diare untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit. Oralit hipoosmolar telah terbukti dapat mengurangi jumlah tinja cair yang keluar maupun frekuensi diare. Zinc elemental juga dapat  diberikan kepada anak yang mengalami diare, untuk memperbaiki permeabilitas saluran cerna dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg untuk bayi usia di bawah 6 bulan dan 20 mg untuk bayi usia di atas 6 bulan selama 10-14 hari. Jika sebagian besar penyebabnya adalah infeksi, maka menjaga kebersihan, membiasakan pola hidup sehat, dan menjaga daya tahan tubuh merupakan syarat yang harus diperhatikan. Oleh karena sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh Rotavirus, maka antibiotik tidak menjadi pertimbangan pertama dalam pengobatan diare, perlu kajian klinis yang cermat.

Pada bayi baru lahir (1 bulan), kita harus hati-hati dalam mengintepretasi diare. Frekuensi buang air besar 6x sehari dan tinja agak cair dapat sebagai keadaan fisiologis karena masih rendahnya enzim laktase yang berfungsi memecah laktosa (karbohidrat utama di dalam ASI maupun susu formula).

Sumber : www.idai.or.id