Terapi inhalasi adalah pemberian obat secara langsung ke dalam saluran napas melalui penghisapan atau hirupan. Fungsi utama terapi ini adalah mencairkan dahak atau lendir yang menutupi saluran pernapasan sehingga anak dapat bernapas normal kembali dan tidak sesak.

Pada umumnya terapi inhalasi ini diberikan pada pasien-pasien dengan gangguan pernafasan seperti asma, cystic fibrosis, bronkiektas, bronchitis kronis, & sindrom krup

Persiapan yang perlu dilakukan sebelum melakukan terapi inhalasi pada anak sebaiknya anak diberi minum air putih secukupnya, tidak disarankan untuk diberi makan atau minum susu sebelum proses inhalasi untuk menghindari efek muntah dan makanan masuk ke dalam saluran pernapasan. Orang tua tak perlu khawatir apabila si kecil menangis pada saat diberikan terapi inhalasi. Saat menangis  anak  akan berusaha menarik napas panjang dan dalam sehingga obat bisa masuk ke paru-paru dengan lebih maksimal.

Setelah diberikan terapi inhalasi, anak dapat dilakukan chest physiotherapy. Yaitu suatu teknik untuk membantu pengeluaran lendir, misalnya clapping atau tepukan daerah dada dan punggung, vibrasi, dan postural drainage. Inhalasi dapat dilakukan beberapa kali pada keadaan dahak atau lendir yang banyak.

Pemberian obat secara inhalasi mempunyai beberapa keuntungan yaitu obat bekerja langsung pada saluran napas,  kerjanya cepat, dosis obat yang digunakan kecil, efek samping minimal karena konsentrasi obat di dalam darah sedikit atau rendah dan terapi ini tidak berbahaya bila dilakukan secara berulang pada anak. Orangtua tidak perlu khawatir, obat-obat yang digunakan pada terapi inhalasi tidak akan menimbulkan ketergantungan dan tidak mempunyai efek samping yang berbahaya. Terapi inhalasi juga tidak harus dikerjakan dalam paket 3-5 hari berturut-turut. Terapi ini hanya diberikan untuk menghilangkan lendir dan mengurangi sesak dalam waktu sesegera mungkin. Pengulangan tindakan dikerjakan berdasarkan respons penguapan. Apabila responsnya baik (sesak berkurang) maka tidak perlu diulang, tetapi apabila kurang baik, maka dapat diulang 30 menit kemudian.

Pada keluhan batuk keras tanpa disertai lendir yang banyak dan tanpa sesak tidak diperlukan inhalasi. Terapi inhalasi tidak dianjurkan juga untuk terapi hidung buntu atau pilek. Pada kasus yang ringan dan tidak sesak terapi inhalasi tidak perlu diberikan. Dikutip dari milissehat.web.id juga menginformasikan bahwa Inhalasi ini tidak dianjurkan untuk tatalaksana bronkiolitis apalagi common cold (batuk pilek) biasa pada anak.

 

Sumber :

www.parenting.co.id

www.tempo.co.id

www.milissehat.web.id