Penyakit alergi seperti dermatitis atopik (eksim), urtikaria (biduran/kaligata), asma, rinitis alergi (pilek karena alergi) sering membuat orangtua khawatir karena penyakit ini sering berulang terjadi dan dapat menyebabkan komplikasi atau gangguan tumbuh kembang. Orangtua sering bertanya ke dokter, apakah anak perlu dites alergi?. Sebelum memutuskan perlu/tidaknya tes alergi, orangtua perlu mengetahui seluk beluk tes alergi. Penelusuran penyakit alergi dimulai dari proses anamnesis (wawancara dokter ke orangtua pasien atau pasien) mengenai keluhan yang dialami anak, dilanjutkan ke pemeriksaan fisis. Apabila kedua tahap ini disimpulkan bahwa gejala yang dialami anak adalah bagian dari suatu penyakit alergi, maka dapat dipertimbangkan untuk melakukan tes alergi.

Tes alergi tidak dilakukan pada seluruh kasus penyakit alergi. Tes alergi diperlukan untuk membantu mengetahui faktor pencetus gejala alergi dan bukan untuk menegakkan diagnosis penyakit alergi. Tes alergi tidak perlu dilakukan pada kasus-kasus yang faktor pencetusnya sudah dapat diketahui dari proses tanya jawab awal dan memang jelas terlihat hubungan antara faktor pencetus dengan timbulnya gejala. Tes alergi dibutuhkan untuk pasien dengan gejala yang dicurigai sebagai penyakit alergi yang berat, persisten, atau berulang tanpa jelas diketahui pencetusnya. Tes alergi juga perlu dilakukan untuk membuktikan gejala itu benar karena alergi atau tidak.

Macam-macam tes untuk Alergi antara lain sebagai berikut :

Skin prick test (SPT)

Skin prick test merupakan tes yang paling sering dikerjakan untuk menentukan adanya IgE spesifik untuk beberapa alasan seperti untuk memeriksa alergi terhadap alergen yang dihirup (debu, tungau, serbuk bunga) dan alergen makanan (susu, udang, kepiting), hingga 33 jenis alergen atau lebih. Skin prick test tidak invasif, aman, hasil dapat diperoleh dengan cepat (15-20 menit), lebih murah dibandingkan pemeriksaan IgE spesifik dalam darah dan mempunyai hasil yang cukup baik. Namun, tes ini tidak dapat dilakukan pada keadaan kelainan kulit yang luas karena SPT harus dikerjakan pada kulit yang sehat, anak tidak dapat menghentikan konsumsi obat antihistamin/obat anti alergi, karena bila obat tersebut dihentikan keluhan alergi yang timbul sangat berat/mengganggu, dermatografisme (keadaan kulit yang menjadi bentol dan merah apabila ditekan/digores sesuatu).

Pemeriksaan IgE spesifik dalam darah

Pemeriksaan IgE spesifik dalam darah dapat menjadi alternatif pada kondisi yang tidak memungkinkan dilakukan SPT. Hasil SPT dan pemeriksaan IgE spesifik dalam darah setara, sehingga tidak diperlukan 2 pemeriksaan untuk saling mengkonfirmasi.

Uji tempel kulit

Pemeriksaan ini dilakukan untuk evaluasi reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Tes ini berguna untuk mengetahui alergi yang disebabkan kontak terhadap bahan kimia, misalnya pada kasus penyakit dermatitis atau eksim.  Pemeriksaan ini dilakukan dengan menempelkan alergen di kulit selama 2-3 hari. Namun pemeriksaan ini tidak rutin dikerjakan.

Tes provokasi dan eliminasi makanan

Tes provokasi dan eliminasi makanan berguna untuk mengetahui alergi terhadap makanan tertentu. Dapat dilakukan pada anak usia berapa pun. Caranya adalah dengan dalam diet sehari-hari anak, dilakukan eliminasi (dihindari) beberapa makanan penyebab alergi selama 2–3 minggu. Setelah itu, bila sudah tidak ada keluhan alergi,  maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Selanjutnya, dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu dan bila timbul gejala dicatat. Disebut sebagai penyebab alergi bila dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala. Tak perlu takut anak akan kekurangan gizi, karena selain eliminasi diet ini bersifat sementara, anak dapat diberi pengganti makanan yang ditiadakan yang memiliki kandungan nutrisi setara.

Tes provokasi obat

Tes provokasi obat berguna untuk mengetahui alergi terhadap obat yang diminum. Dapat dilakukan pada anak usia berapa pun. Metode yang digunakan adalah DBPC (Double Blind Placebo Control) atau uji samar ganda. Caranya, pasien minum obat dengan dosis dinaikkan secara bertahap, lalu ditunggu reaksinya dengan interval 15–30 menit.  Dalam satu hari, hanya boleh satu macam obat yang dites. Bila perlu dilanjutkan dengan tes obat lain, jaraknya minimal satu minggu, bergantung dari jenis obatnya.

 

Sumber :

http://www.ayahbunda.co.id/balita-gizi-kesehatan/beberapa-jenis-tes-alergi

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/perlukah-tes-alergi