Setiap anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, bisa dengan cepat bahkan lambat, tergantung pada individu dan lingkungannya. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor di antaranya adalah genetik, lingkungan (baik semenjak dalam kandungan ataupun setelah lahir), status sosial ekonomi, faktor nutrisi dan kesehatannya.

Anak yang mengalami alergi biasanya akan memiliki respon yang berlebih pada sesuatu yang di anggap asing atau berbahaya bagi tubuh. Tubuh anak yang alergi juga bisa mengalami intoleransi terhadap suatu bahan makanan tertentu, sehingga jika tidak ditangani maka akan berdampak pada kesehatan si anak, selain itu tumbuh kembang anak pun dapat terganggu.

Protein merupakan salah satu zat gizi yang paling sering menjadi pemicu alergi, contohnya adalah pada produk susu sapi dan olahannya, protein yang bersumber dari telur, kacang-kacangan, seafood, serta gandum. Fungsi utama protein adalah untuk pembentukan sel-sel pada tubuh. Jika kebutuhan akan protein pada anak tidak terpenuhi dapat menjadi penghambat tumbuh kembang pada anak karena sel-sel tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan mampu berkembang dengan baik. Hal ini lah yang menyebabkan orang tua harus berpikir lebih keras untuk mencari sumber bahan makanan pengganti lain untuk memenuhi kebutuhan protein, selain itu orang tua hendaknya melakukan intervensi gizi melalui praktisi kesehatan seperti dokter anak ataupun ahli gizi.

Akibat lain dari alergi adalah terganggunya gangguan pencernaan seperti sulit makan, sering muntah, sering diare, sering kembung dan sebagainya, yang berisiko terjadinya malnutrisi. Adanya alergi juga  bisa mengganggu sistem syaraf pusat (otak), hal ini diakibatkan oleh pengaruh beberapa zat stimulant yang dikeluarkan oleh pencernaan penderita alergi.
Gangguan otak yang terjadi antara lain keluhan sakit kepala berulang, gangguan tidur, keterlambatan bicara, serta gangguan perilaku. Gangguan perilaku yang sering terjadi antara lain emosi berlebihan, agresif, overaktif, gangguan belajar, gangguan konsentrasi, gangguan koordinasi, hiperaktif hingga autism. Penanganan alergi pada anak memang harus dilakukan secara benar dan berkesinambungan. Pemberian obat terus-menerus bukanlah langkah terbaik. Hal yang paling ideal adalah menghindari pencetus yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.