Menurut data statistik WHO tahun 2013, kurang lebih 1.5 juta bayi terlahir prematur setiap tahunnya di dunia. Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya. Pada tahun 2010, Indonesia menempati peringkat kelima negara dengan bayi prematur terbanyak di dunia (675.700 bayi) setelah India (3,5 juta bayi), Tiongkok (1,2 juta bayi), Nigeria (773.600 bayi), dan Pakistan (748.100 bayi). Kelahiran bayi yang prematur adalah penyebab utama meninggalnya bayi yang baru lahir di bawah usia 4 minggu dan penyebab kedua setelah pneumonia untuk anak di bawah 5 tahun. Bayi disebut lahir prematur jika persalinan terjadi sebelum bayi mencapai usia 37 minggu di dalam rahim sang ibu.

Di Indonesia, angka kematian bayi sangat tinggi yaitu angka kematian bayi 32 per 1.000 kelahiran hidup. Setiap 1 jam terdapat 10 kematian bayi di Indonesia. Salah satu penyebab kematian bayi terbanyak adalah prematuritas dan infeksi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2007, penyebab kematian neonatus 0-6 hari di Indonesia adalah asfiksia (37 persen), prematuritas (34 persen), dan sepsis (12 persen). Sementara itu, penyebab kematian neonatus 7-28 hari adalah sepsis (20,5 persen), kelainan kongenital (19 persen), pneumonia (17 persen), respiratory distress syndrome/ RDS (14 persen), dan prematuritas (14 persen).

Penyebab dan faktor yg mempengaruhi kelahiran premature

  • Penyebab pasti dari kelahiran prematur belum diketahui. Namun kemungkinan lebih besar terjadi pada ibu yang pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya, kelahiran kembar, jarak dengan kehamilan sebelumnya kurang dari 6 bulan, keguguran atau aborsi berulang, infeksi pada ibu hamil dan ibu yang merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang. Faktor psikologis seperti stress yang dialami ibu hamil, misalnya suami meninggal, dapat memicu kelahiran prematur.

Ciri-ciri bayi premature

Pada umumnya bayi prematur memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Ukuran lebih kecil dengan berat badan di bawah 2.5 kg
  • Kulit tipis dan rapuh
  • Banyak lanugo (rambut halus) di tubuh
  • Suhu tubuh lebih rendah
  • Memiliki masalah pernafasan
  • Kurangnya refleks dalam menyedot dan menelan

Komplikasi bayi premature

  • Karena bayi terlahir sebelum usia 37 minggu di mana proses pembentukan tubuh belum begitu sempurna, komplikasi sangat mungkin terjadi. Masalah utama yang mungkin dialami bayi prematur adalah masalah pernafasan di mana paru-paru bayi belum berfungsi dengan baik, maka umumnya bayi akan dibantu dengan alat setelah dilahirkan.
  • Selain itu, resiko infeksi serta komplikasi pada jantung, metabolisme, daya tahan (immune system), pencernaan dapat dialami bayi prematur.SIDS (kematian mendadak pada bayi) juga mungkin terjadi. Dalam jangka panjang, masalah seperti kognitif, perkembangan perilaku dan psikologis, pendengaran serta penglihatan mungkin dialami oleh anak yang terlahir prematur.

Penanganan dan perawatan bayi premature

  • Sebenarnya kelahiran prematur bisa dicegah dengan injeksi saat kehamilan untukmembantu perkembangan paru-paru janin, bila diketahui ada kemungkinan tersebut. Penanganan yang khusus seperti dirawat di bagian NICU (Neonatal Intensive Care Unit) di rumah sakit menjadi cara utama untuk menolong bayi yang prematur.
  • Bayi mungkin memerlukan bantuan alat, contohnya untuk disinar bila jumlah bilirubin tinggi atau pemberian antibiotik bila bayi mengalami infeksi. Sekarang metode “Kangaroo mother care” (bayi dipeluk ibu agar mengalamiskin-to-skin contact dan pemberian ASI yang sering) bisa diterapkan dan sangat membantu bayi prematur lebih sehat.
  • Walaupun orang tua yang mengalami kelahiran bayi prematur mengalami tantangan yang cukup berat baik dari segi emosi, fisik serta finansial, keajaiban masih dapat terjadi.

 

 

 

Sumber :

www.theasianparent.com

www.idai.or.id

www.nationalgeographic.co.id