Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di Negara berkembang. Salah satu obat andalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah antimikroba antaralain antibakteri/antibiotik, antijamur, antivirus, antiprotozo. Antibiotik merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat antara lain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Intensitas penggunaan antibiotic yang relative tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik.

Antibiotik adalah golongan obat untuk membunuh bakteri secara langsung atau melemahkan bakteri sehingga kemudian dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita. Antibiotik ada yang merupakan produk alami, semi sintetik (berasal dari alam dibuat dengan beberapa perubahan agar lebih kuat), full sintetik. Menurut penelitian, ada beberapa kondisi yang umumnya diterapi dengan antibiotik, yaitu demam, radang tenggorokan, diare, batuk pilek, bronchitis, sinusitis ,infeksi telinga (karena tidak semua infeksi telinga disebabkan bakteri). Padahal, sebenarnya, penggunaan Antibiotik untuk kondisi tadi tidaklah tepat dan tidak berguna sehingga penggunaan antibiotik yang tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak akan menguntungkan, justru merugikan dan membahayakan.

Beberapa jenis infeksi bakteri yang umumnya terjadi dan membutuhkan terapi antibiotik antara lain infeksi saluran kemih, sebagian infeksi telinga tengah atau biasa disebut otitis media, sinusitis yang berat (berlangsung lebih dari minggu, sakit kepala, pembengkakan di daerah wajah), radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih sedangkan pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini). Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi. Contohnya apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, lab. mengambil sample urin dan kemudian dikultur, setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi bakteri berikut jenisnya.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat guna bisa berakibat efek negatif seperti terganggunya saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas), alergi, demam (demam bactrim, septrim, sefalsporoin, eritromisin), gangguan darah, kelainan hati, gangguan fungsi ginjal. Pemakaian antibiotik tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu terhadap kita dan lingkungan sekitar, contohnya juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada didalam tubuh kita, pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap antibiotic. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah dengan antibiotik  yang ringan, apabila digunakan dengan irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis antibiotic  yang lebih kuat.

Sumber :

http://purnamawati.wordpress.com/category/my-articles/

http://milissehat.web.id/