26 mei 2009 akhirnya aku melahirkan putra pertamaku lewat operasi Cesar di usia kandungan 8bulan. Berat badannya 2550gr dgn panjang 45cm. Dan kami beri nama Alain. Krn asi ku sedikit dia minum sufor dan asi. Senuanya baik baik saja. Tidak ada masalah. Dia juga bayi yg manis, tdk rewel bahkan tdk menangis. Awal dari segalanya saat dia berusia 10 hr. Hari itu dia BAB 2x, biasanya 1x, esoknya 3x, 4x,dan akhirnya tak terhitung. Seminggu kemudian aku bawa ke dsa nya, diberi obat diare dan diganti susu BL. Tak ada perubahan. 1minggu kemudian aku bawa lagi, dikasi obat lagi. Tetap tidak ada perubahan. Setiap minum langsung BAB, malah semakin parah krn ditambah dengan muntah,wajah penuh ruam,mata belekan, berat badan tidak naik. Alain sungguh anak yang kuat, tak ada tangis sedikit pun. Tidur nyenyak. Justru kita yg kewalahan, lagi kasih minum,bawahnya BAB, kita bersihin bawah atasnya muntah, selalu seperti itu.

Tepat di usia 1bulan wajahnya pucat, dan malam berikutnya di menangis menjerit2 tidak tidur semalaman. Hingga esok harinya menangis terus. Akhirnya aku melihat ada darah di kotorannya. Langsung saat itu juga kami bawa ke RS. Dokter anak di RS menyuruh opname, tapi kami pikir2 dulu, dan akhirnya kami pulang dgn menanda tangani persetujuan. Siangnya Alain semakin parah, kami kembali lagi ke RS tp ke UGD dan opname. Keesokan hari kami harus mencari darah, Alain perlu transfusi krn HB nya hanya 8 yg harusnya 13.dia opname tanpa kami tunggu, krn kebijakan RS. Diagnosisnya karena bakteri, karena kami kurang bersih, berbagai macam penuturan yg mengatakan bgm kami tdk bisa menjaga kebersihan, salah ini itu. Hari ke-5 Alain diperbolehkan pulang, katanya sudah tidak diare. Sampai di rumah ternyata langsung diare. Kami langsung telpon dokter yg merawatnya. Beliau kaget, menurut catatan perawat sudah tidak diare tapi begitu sampai rumah kok diare lagi. Akhirnya beliau menyarankan ganti susu soya.

Hari pertama dengan soya hasilnya lebih baik, tp esoknya sama saja bahkan BAB berdarah. Tepat 1minggu dia opname lagi di RS yang sama. Dicari2 penyebabnya tidak ketemu, baru setelah hampir 2minggu opname baru diketahui dari test darah bahwa Alain intoleransi lemak. Dan susunya diganti formula hidrolisa sempurna. Tepat 2minggu diperbolehkan pulang, lagi2 katanya sudah tidak diare. Dan lagi2 kami harus mengelus dada melihat tangan kakinya penuh bekas jarum infus. Sementara berat badannya hanya naik 400gram. Ternyata dugaan kami benar, di rumah dia diare lagi.

Besok malamnya kami bawa ke praktek dokter anak yang lain. Sang dokter langsung terenyuh melihat kondisi Alain. Kurus kering dan pucat, beratnya hanya 2,9kg diusia hampir 2bulan. Beliau langsung memutuskan opname.Karena kami sudah bosan opname ,yang bagi kami menyiksa alain, kami menawar2. Minggu 26 juli 2009 saat usia 2bulan Alain dibaptis secara Katolik dalam keadaan tidak sadar dalam gendonganku, setelah sebelumnya sempat muntah. Anak yang kuat, sedemikian parah kondisinya tetap tak menangis. Hingga 2 hari kemudian dia menangis menjerit2 semalaman hingga 24jam tidak berhenti, tidak tidur. Akhirnya malamnya kami bawa ke RS sesuai pengantar dokter yang baru kemarin. Jam12 malam kami ditelepon RS, Alain butuh darah. Lagi2 HB nya hanya 8. Hari pertama diruang NICU, dia minum lewat sonde,karena dia tidak mampu minum banyak. Setelah di cek keseluruhan ternyata dia sudah komplikasi. Diare kronis menyebabkan malnutrisi, infeksi saluran kencing, lapisan ususnya rusak. Dan jantungnya bocor. Selama 1bulan di NICU akhirnya masalah masalah tersebut teratasi satu persatu. Mata yang belekan diobati dengan salep. ruam merah di wajah juga sudah hilang, infeksi saluran kencingnya juga telah sembuh dengan antibiotik, jantungnya yang semula ada 3 lubang hanya tersisa 1 yang 2 sudah menutup. Susunya sempat diganti soya tapi tidak cocok, akhirnya pake formula hidrolisa sempurna, karena saat itu formula asam amino kosong di indonesia. Tepat 1 bulan Alain bisa kami bawa pulang, dan masih diare tetapi berkurang. Jika dulu setiap minum langsung BAB, saat itu 4kali/hari. Berat badannya sudah 4,1 kg di usia 3bulan. Selain alergi susu sapi dan kedelai ternyata Alain juga kekurangan enzim dalam pencernaannya sehingga tidak bisa mencerna protein dan lemak.

Sejak usia 3bulan Alain kami rawat di rumah, tapi perlahan frekuensi diare mulai berkurang dan berat badannya semakin bertambah. Diusia 6 bulan aku coba ganti susunya dengan hipoalergenic, tenyata tidak ada masalah, dan di usia 1tahun sudah bisa minum salah satu merk susu sapi biasa. Yang menggembirakan, diarenya telah berhenti sebelum usia 6bulan, dan berat badannya naik pesat. Dari bayi malnutrisi jadi bayi montok. Suatu keajaiban, seorang bayi yang nyaris kehilangan nyawa, bayi yang kuat, saat dokter sudah angkat tangan, dan dia sembuh, sehat,montok,juga pintar.

Sekarang Alain sudah berusia 19bulan. Agustus 2010 kemarin telah operasi jantung, yang lagi2 dia kuat tanpa menangis. Dan yang menyedihkan saat usia 6bulan dia terdiagnosa tuna rungu. Alainku tidak bisa dengar. Kami tidak tau apa ini bawaan dari lahir atau efek dari sakitnya dulu. Untuk alerginya masih ada, jadi kami harus selektif. Dia benar2 sensitif dan banyak yg membuat dia alergi. Dia alergi udara panas (tibul merah di kulit), alergi debu tungau (sprei harus ganti maks 1minggu,kalo tidak jadi batuk pilek), alergi beberapa jenis buah (batuk,diare), alergi susu sapi (kecuali 1 merk), alergi protein kedelai (tahu tempe), ayam, lemak. Jadi kami lakukan cara coba2 tiap jenis makanan.
Satu lagi yang masi tersisa, dari kenangan masa lalunya, bekas2 jarum di kaki tangannya masih ada.

Apapun kondisi Alain sekarang, kami menerimanya dengan sukacita. Yang terpenting dia tidak diare lagi. Tuhan masih mengijinkan kami membesarkan dia. Kalo dulu kami dan Alain telah berjuang mempertahankan nyawa, kini kita berjuang untuk masa depan Alain dengan tuna rungunya. Kalau Alain saja bisa sedemikian kuat,masa kami orang tuanya kalah.