Daging kambing adalah salah satu daging merah yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Namun, meski lezat, banyak orang yang menghindari makan daging jenis ini karena kekhawatiran terhadap kesehatan.

 

http://aksisadaralergi.org/wp-content/uploads/2015/09/triplets-makan-daging.jpg

Selain memiliki cita rasa yang enak, daging juga mengandung banyak manfaat. Namun apakah daging ini bisa jika diberikan pada bayi? Daging dapat diberikan kepada bayi sejak diberikan makanan pendamping oleh Bunda. Namun, walaupun begitu mengingat daging ini memiliki begitu banyak protein yang jika tidak diperhatikan dapat membebani ginjal. Maka berikan secara bertahap sesuai dengan usia bayi.

Daging adalah salah satu media untuk bakteri berkembangbiak. Dengan demikian perkecil risiko kontaminasi oleh bakteri pada makanan lainnya, dengan melakukan:

  1. Menggunakan talenan dan pisau yang berbeda untuk sayuran dan daging.
  2. Biasakan mencuci tangan sebelum mengolah dan memegang daging mentah.
  3. Olah daging dengan tepat.
  4. Panggang dalam wadah yang tertutup.

Berdasarkan publikasi yang dilakukan oleh USDA, daging kambing mentah memiliki kandungan lemak 50 %-65 % lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi, akan tetapi kandungan proteinnya hampir sama. Daging kambing juga memiliki kandungan lemak 42 %-59 % lebih rendah jika dibandingkan dengan daging domba.

Berdasarkan hasil penelitian, asam lemak yang terkandung pada daging kambing sebagian besar (68,5-72,3%) terdiri dari lemak tidak jenuh. Daging kambing mengandung asam lauric, myristic, dan palmitic yang merupakan asam lemah tidak jenuh yang tergolong kedalam kelompok nonhypercholesterolemic masing-masing sebanyak 2,0 ; 2,6, dan 27,6%. Disamping itu, daging kambing mengandung asam lemak tidak jenuh oleic (C:18.1) sebanyak 30,1 37,0%, linoleic (C18.2) sebanyak 13,4%, dan linolenic (C:18.3) sebanyak 0,4%.

Pantau selalu alergi

Sama halnya dengan makanan lain, daging ini berpotensi untuk menimbulkan alergi, biasanya memiliki riwayat alergi dari keluarganya. Untuk mengetahui kekebalan tubuh bayi dalam mengkonsumsi daging, berikan satu per satu jenis daging. Berikan selama 4 hari, sambil melihat seberapa besar kemungkinan si kecil mengalami alergi, bisa dilihat pada ruam kulit, atau diare. Jika tidak terjadi reaksi apapun beralihlah pada jenis daging yang lain.

Alergi makanan terjadi jika ada protein dari makanan atau molekul besar lainnya yang masuk ke dalam jaringan tubuh. Molekul tersebuy oleh tubuh akan dianggap sebagai benda asing, terutama bagi mereka yang mempunyai riwayat alergi. Nah, keberadaan benda asing tersebut akan memicu tubuh memberikan reaksi system kekebalan dan mengeluarkan antibody, histamine, dll, dengan maksud untuk melokalisasi benda asing tersebut.

Kandungan alfa-galaktosa dalam daging patut diwaspadai karena senyawa itulah yang mencetuskan timbulnya alergi.Reaksi alergi biasanya tidak terjadi pada kontak pertama dengan alergen, tapi terjadi setelah terkena paparan berikutnya dan secara tiba-tiba. Alfa-galaktosa diproduksi oleh sebagian besar mamalia, tapi pada manusia dan kera besar justru memproduksi antibodi untuk gula. Masalah bisa muncul ketika tubuh seseorang memproduksi antibodi IgE pada gugus gula dan kemudian mengonsumsi daging atau produk susu yang mengandung gula, sehingga mengakibatkan adanya reaksi yang tertunda

Berikan daging pada bayi berusia 7-10 bulan.

  • Jika bayi belum mempunyai gigi sebaikya bayi diberikan daging cincang yang halus.
  • Jika bayi telah memiliki gigi dan dapat memakan biskuit dan buah-buahan anda dapat memotong  kecil daging.
  • Seimbangkan daging merah dengan zat gizi lainnya.

Hindari menggunakan daging olahan

Sebaiknya ibu tidak menggunakan daging olahan seperti nugget, bakso, dan juga sosis untuk bayi anda. Daging olahan banyak mengandung garam, dan mengandung zat kimia berbahaya bagi kesehatan. Selain daging olahan tersebut sebaiknya anda tidak memberikan bayi anda daging kambing atau daging domba yang memiliki efek panas pada pencernaan bayi. Buang lemak yang ada pada daging merah (daging tanpa lemak)

Daging merah khususnya daging sapi mengandung banyak manfaat. Daging sapi ini mengandung 1,5-2,0% mioglobin. Sedangkan pada sapi muda mengandung 0,1-0,3% mioglobin. Jika dibandingkan dengan daging ayam yang kurang dari 0,05% mioglobin, maka tak heran dagingnya pun berwarna putih. Selain protein, daging merah ini mengandung banyak sekali zat gizi.

Jadi, Bunda boleh saja memberikan daging kambing kepada si kecil, asal jangan terlalu banyak dan lebih baik dagingnya benar jangan sampai lemaknya ikut termakan karena lemaknya berbahaya bagi tubuh, setiap sesuatu yang berlebihan walaupun baik hasilnya jadi tidak bagus.

 

Sumber :Daging Merah untuk Makanan Bayi – Bidanku.comhttp://bidanku.com/daging-merah-untuk-makanan-bayi#ixzz3mQknZuPR