Tahukah Anda bahwa alergi susu sapi adalah suatu kelainan yang cukup serius dan umum dijumpai pada bayi?

Apa itu alergi susu sapi?

Tubuh kita memiliki sistem kekebalan tubuh untuk melindungi kita dari bahaya infeksi. Sistem kekebalan tubuh ini menyerang virus dan bakteri yang dapat menyebabkan kita jatuh sakit. Dengan adanya alergi susu sapi ini, sistem kekebalan tubuh kita tidak dapat membedakan protein susu dengan virus atau bakteri, hal ini dikenal dengan istilah allergen.

Respon dari kekebalan tubuh kita terhadap protein susu sapi dan juga gejala-gejala akibat dari hal tersebut, dinamakan reaksi alergi. Respon kekebalan tubuh akibat alergi susu sapi  seringkali muncul hanya dalam jangka waktu beberapa menit setelah bayi mengkonsumsi susu dan mungkin berlangsung atau berkembang dalam jangka waktu beberapa jam sampai beberapa hari.

Seberapa umumkah alergi terhadap makanan?

Diperkirakan sekitar 6 sampai 8 dari 100 bayi memiliki alergi terhadap satu atau beberapa jenis makanan. Dari 8 allergen makanan yang sering ditemukan adalah protein yang terdapat pada susu, kacang kedelai, gandum, telur, kacang-kacangan, ikan, seafood yang bercangkang (mis. kepiting, udang, kerang) dan kacang pohon.

Namun demikian, seorang anak mungkin saja alergi terhadap semua jenis makanan berprotein. Sebagian besar anak dapat melewati masa alergi makanan setelah berusia 3 tahun, di usia ini sistem pencernaan anak sudah matang sehingga dapat mencerna protein (walaupun demikian, alergi terhadap ikan dan kacang-kacangan dapat saja diderita seumur hidup).

Mengapa alergi terhadap makanan dapat terjadi pada anak?

Tidak dapat dijelaskan secara rinci, mengapa pada beberapa anak terjadi kekebalan tubuh terhadap satu atau lebih jenis protein makanan. Seorang anak mempunyai peluang lebih besar untuk memiliki alergi makanan, apabila terdapat sanak keluarganya yang mempunyai alergi makanan atau keturunan penyakit asthma, hives, hay fever atau eksim.

Bayi dengan alergi susu sapi tidak dapat menerima rantai protein kompleks yang terdapat pada susu sapi. Akibatnya terjadi reaksi alergi yang ditandai dengan timbulnya beberapa gejala dalam waktu singkat (kurang dalam 1 jam), maupun dalam waktu yang cukup lama (lebih dari 24 jam).

Bayi Anda dapat memberikan hanya satu gejala ataupun beberapa gejala sekaligus. Dalam sebuah studi di Denmark pada tahun 1985, sebagian besar bayi (92%) yang didiagnosis mengidap alergi susu sapi memiliki dua gejala atau lebih, dan 72% bayi memiliki gejala pada dua organ atau lebih di tubuhnya.

Gejala-gejala yang cukup umum terjadi adalah:

  • Diare terus-menerus
  • Terdapat darah/mucus pada feces
  • Seringkali muntah-muntah
  • Gatal-gatal pada kulit
  • Masalah pada pernapasan
  • Tidak berhenti menangis
  • Berat badan sulit bertambah

Gejala-gejala kompleks di atas yang menyebabkan alergi susu sapi seringkali sulit untuk didiagnosis. Selain itu, berbagai keterbatasan alat tes diagnosis yang umum tersedia pada saat ini juga menyebabkan alergi susu sapi tertunda untuk diketahui.

Anda dapat pula melakukan tes pada website ini, jika Anda mencurigai adanya gejala alergi susu sapi pada bayi Anda. Jangan lupa, segera konsultasikan ke dokter Anda mengenai diagnosis lebih lanjut.

Berikan bayi Anda tindakan yang tepat pada gejala alergi susu sapi. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menghindari konsumsi susu sapi dan protein kedelai dari makanan untuk ibu maupun bayi. Sebagian besar bayi memang akan melewati masa alergi susu sapi pada umur 18 bulan. Namun sebelum masa itu tersebut tiba, tindakan terbaik untuk menyikapi alergi susu sapi  adalah menghindari protein susu sapi dan kedelai.

Untuk bayi yang diberi ASI:

Untuk mencegah alergi, bayi sebaiknya diberikan ASI saja hingga berusia 6 bulan. Berbeda dengan susu formula, ASI mengandung antibodi yang akan menurunkan risiko infeksi dan alergi.

Ibu yang menyusui harus menghindari susu dan protein kedelai dari dietnya. Menghindari susu dan protein kedelai memang agak menyulitkan karena banyak digunakan dalam berbagai  makanan. Protein susu yang dikenal dengan nama casein atau whey, yang juga harus dihindari, terdapat dalam berbagai produk makanan. Oleh karena itu, Ibu harus selalu memperhatikan tabel nutrisi pada label makanan yang akan dikonsumsinya.

Berikut ini adalah daftar makanan yang mungkin mengandung susu atau protein kedelai:

  • Semua produk susu dan kedelai
  • Daging /daging yang telah diproses
  • Makanan yang mengandung casein atau whey pada labelnya
  • Glaze atau topping
  • Makanan yang tidak mengandung lactose
  • Coklat
  • SerealSup krim / Sup yang tidak berkaldu
  • Keju / yoghurt
  • Salad dressing

Untuk bayi yang diberi Susu Formula:

Tindakan yang terbaik adalah mengganti seluruh rantai protein dengan formula dengan dasar asam amino.

Sumber protein pada susu formula bayi:

Semua basic formula (susu dan kedelai) terbuat dari rantai protein lengkap yang dapat menyebabkan reaksi alergi.

Non-lactose formula juga terbuat dari rantai protein lengkap yang diperuntukan bagi bayi dengan intoleransi laktosa yang timbul akibat ketidakseimbangan antara jumlah laktosa yang dikomsumsi dan kapasitas enzim laktase untuk menghidrolisis laktosa. Formula ini dapat menyebabkan reaksi alergi untuk bayi dengan alergi susu sapi.

Formula hipoalergenik terbuat dari rantai lebih pendek mengandung protein terhidrolisa diperuntukan bagi pencegahan primer alergi pada bayi dengan beresiko alergi. Formula ini masih mengandung protein susu yang masih dapat menyebabkan reaksi alergi.

Extensively Hydrolyzed formula (eHF) memecahkan protein menjadi beberapa bagian. Jenis protein ini dapat diterima pada sebagian besar kasus, namun masih dapat menyebabkan reaksi alergi. Formula ini masih mengandung protein susu.

Amino acid-based formula terbuat dari 100% asam amino non-alergenik. Protein ini  dipecahkan sampai pada rangkaian yang paling sederhana dan murni, sehingga dapat diterima dengan baik pada semua kasus alergi susu sapi.